Kehidupan Masyarakat Multikultur

DINAMIKA KEBUDAYAAN

Budiaman

A. Pengertian Dinamika Kebudayaan

Manusia dan kebudayaan merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, karena manusia adalah pendukung keberadaan suatu kebudayaan. Kebudayaan pada suatu masyarakat harus senantiasa memiliki fungsi yang dapat menunjang pemenuhan kebutuhan bagi para anggota pendukung kebudayaan. Kebudayaan harus dapat menjamin kelestarian kehidupan biologis, memelihara ketertiban, serta memberikan motivasi kepada para pendukungnya agar dapat terus bertahan hidup dan melakukan kegiatan-kegiatan untuk kelangsungan hidup.
Dalam jangka waktu tertentu, semua kebudayaan mengalami perubahan. Leslie White (1969) mengemukakan bahwa kebudayaan merupakan fenomena yang selalu berubah sesuai dengan lingkungan alam sekitarnya dan keperluan suatu komunitas pendukungnya. Sependapat dengan itu Haviland (1993 : 251) menyebut bahwa salah satu penyebab mengapa kebudayaan berubah adalah lingkungan yang dapat menuntut kebudayaan yang bersifat adaptif. Dalam konteks ini perubahan lingkungan yang dimaksud bisa menyangkut lingkungan alam maupun sosial.
Berkaitan dengan perubahan kebudayaan, Kingsley Davis berpendapat bahwa perubahan-perubahan sosial dalam masyarakat merupakan bagian dari perubahan kebudayaan (Poerwanto, 2000 : 142). Perubahan-peribahan dalam kebudayaan mencakup seluruh bagian kebudayaan, termasuk kesenian, ilmu pengetahuan, teknologi, filsafat, bahkan dalam bentuk dan aturan-aturan organisasi sosial. Ruang lingkup perubahan kebudayaan lebih luas, sudah tentu ada unsur-unsur kebudayaan yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat. Namun demikian setiap perubahan kebudayaan tidak perlu harus mempengaruhi sistem sosial masyarakat yang sudah ada sebelumnya.
Ruang lingkup perubahan kebudayaan lebih menekankan pada ide-ide yang mencakup perubahan dalam hal norma-norma dan aturan-aturan yang dijadikan sebagai landasan berperilaku dalam masyarakat. Sedangkan perubahan sosial lebih menunjuk pada perubahan terhadap struktur dan pola-pola hubungan sosial, yang antara lain mencakup sistem status, politik dan kekuasaan, persebaran penduduk, dan hubungan-hubungan dalam keluarga. Melihat unit analisis perubahan masing-masing perubahan tersebut, maka dapat dimengerti mengapa perubahan kebudayaan memerlukan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan perubahan sosial.
Dinamika kebudayaan identik dengan perubahan unsur- unsur kebudayaan universal, yang apabila ditinjau dalam kenyataan kehidupan suatu masyarakat, tidak semua unsur mengalami perkembangan yang sama. Ada unsur kebudayaan yang mengalami perubahan secara cepat, ada pula yang lambat, bahkan sulit berubah. Apabila mengkaji pengertian kebudayaan menurut Antropolog Inggris Edward Burnett Tylor (Horton & Hunt, 2006 : 58) sebagai suatu kompleks keseluruhan yang meliputi pengetahuan, keyakinan, kesenian, hukum, moral, adat, semua kemampuan dan kebiasaan lain yang diperoleh seseorang sebagai anggota masyarakat; maka tingkat perubahan unsur tersebut menjadi sangat variatif antara satu masyarakat dengan masyarakat yang lain.
Untuk memudahkan pengertian mengenai tingkat kesulitan perubahan unsur-unsur kebudayaan, Koentjaraningrat (2003 : 81) menguraikan 7 (tujuh) unsur kebudayaan universal yang diasumsikan memiliki tingkat perubahan dari yang paling mudah sampai yang paling sulit yaitu :
1) Sistem peralatan hidup dan teknologi
2) Sistem mata pencaharian hidup
3) Organisasi sosial
4) Kesenian
5) Sistem pengetahuan
6) Bahasa
7) Sistem religi
Perubahan kebudayaan sebagai suatu kenyataan, didasari oleh seperangkat teori yang menjelaskan analisis kausal antara konsep-konsep yang relevan. Teori-teori yang menguraikan proses perubahan sosial dan budaya antara lain (Pelly & Menanti, 1994 : 200 – 201) :
1. Teori Sosio Historis Siklus dalam asumsi dasarnya mengemukakan bahwa peradaban manusia berkembang menurut suatu lingkaran atau siklus. Tokoh-tokoh teori ini adalah Ibnu Chaldun, Arnold Toynbee, dan Sorokin.
2. Teori Sosio Historis Perkembangan atau Linear lebih optimis dibanding penganut teori Sosio Historis Siklus. Hal ini didasarkan pada kepercayaan mereka terhadap kesempurnaan kemampuan manusia; proses perkembangan peradaban manusia diasumsikan menuruti garis lurus, makin berkembang makin baik.
3. Teori Psikologi Sosial banyak memberikan sumbangan dalam perkembangan teori perubahan sosial terutama teori-teori tentang : (a) kepribadian kreatif, (b) kepribadian prestasi, dan (c) individu modern. Asumsi dasar dari teori-teori Psikologi Sosial yaitu individu-individu dengan kegiatan dan kreativitasnya akan dapat menggerakkan perubahan sosial.

B. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Dinamika Kebudayaan

Masyarakat akan mengatur perilaku mereka dalam hubungan dengan alam dan lingkungannya, termasuk didalamnya cara berinteraksi sosial dengan sesama anggota masyarakat maupun dengan dunia supranatural menurut kepercayaan yang diyakini. Perubahan kebudayaan dapat terjadi sebagai akibat dari adanya perubahan lingkungan maupun adanya mekanisme akibat munculnya penemuan-penemuan baru atau invensi, difusi, hilangnya unsur kebudayaan, dan akulturasi.
Sairin (2002 : 1) mengemukakan bahwa kebudayaan sebagai suatu sistem pengetahuan, gagasan atau ide yang dimiliki oleh kelompok masyarakat yang befungsi sebagai landasan dan pedoman bagi masyarakat tersebut dalam berperilaku. Sebagai sistem pengetahuan dan gagasan, kebudayaan yang dimiliki masyarakat merupakan kekuatan yang tidak tampak atau invisible power yang mampu mengarahkan manusia pendukung kebudayaan itu untuk bersikap dan berperilaku sesuai dengan pengetahuan dan gagasan yang menjadi milik bersama, bauik di bidang ekonomi, sosial, politik, kesenian, dan sebagainya. Oleh karena itu, kebudayaan bukan hanya terbatas pada kegiatan kesenian, peninggalan sejarah, atau upacara-upacara tradisional seperti yang dipahami oleh banyak kalangan selama ini.
Lebih jauh Sairin (2002 : 2) mengemukakan bahwa sebagai suatu sistem, kebudayaan tidak diperoleh manusia dengan begitu saja, tetapi melalui proses belajar yang berlangsung tanpa henti sejak manusia dilahirkan sampai ajal menjelang. Proses belajar dalam konteks ini, bukan hanya dalam bentuk proses internalisasi dari sistem pengetahuan yang diperoleh melalui pewarisan atau transmisi dalam keluarga, lewat sistem pendidikan formal di sekolah, atau lembaga pendidikan formal lainnya, tetapi juga diperoleh melalui proses belajar dari berinteraksi dengan lingkungan alam dan sosialnya.
Belajar merupakan kata kunci dalam membicarakan transmisi kebudayaan. Konsep ini sangat penting kedudukannya dalam menganalisis berbagai masalah kebudayaan, karena memberikan petunjuk yang jelas bahwa manusia buksnlsh mshluk ysng statis dan dapat diperlakukan semena-mena, tetapi manusia adalah mahluk yang berakal, berpikir, dan melakukan penilaian sebelum memutuskan untuk bersikap pada sesuatu yang dihadapinya. Akal yang dimiliki manusia merupakan alat utama dalam menyaring, memahami, dan mempertimbangkan berbagai masukan yang diterima dari alam sekitarnya sebelum mengambil keputusan dalam bersikap terhadap sesuatu.
Dalam konteks yang lebih sederhana, kebudayaan adalah segala sesuatu yang dipelajari dan dialami secara sosial oleh para anggota masyarakat. Seseorang menerima kebudayaan sebagai bagian dari warisan sosial dan pada gilirannya, bisa membentuk kebudayaan kembali dan mengenalkan perubahan-perubahan yang kemudian menjadi bagian dari warisan generasi yang berikutnya (Horton & Hunt, 2006 : 58).
Selain karakteristik kebudayaan diperoleh melalui prose belajar, salah satu karakteristik lain dari kebudayaan yaitu sifat dinamis. Kebudayaan selalu berubah dan menyesuaikan diri dengan kebutuhan masyarakat. Sifat manusia yang tidak pernah puas dalam upaya pemenuhan kebutuhan yang semakin bermutu dan bervariasi menyebabkan manusia berupaya untuk membuat inovasi-inovasi baru. Berbagai unsur kebudayaan masyarakat Indonesia pada 25 tahun yang lalu, tanpa terasa sudah berubah pada saat-saat ini. Perubahan tersebut bukan semata-mata terjadi pada aspek kebudayaan materil melainkan juga pada aspek immateril.
Menurut Poerwanto (2000 : 143) sebab umum terjadinya perubahan kebudayaan lebih banyak dari adanya ketidakpuasan masyarakat, sehingga masyarakat berusaha mengadakan penyesuaian. Penyebab perubahan bisa saja bersumber dari dalam masyarakat, dari luar masyarakat atau karena faktor lingkungan alam sekitarnya. Faktor perubahan yang bersumber dari dalam masyarakat antara lain adalah :
1. Faktor demografi; yaitu bertambah atau berkurangnya jumlah penduduk. Sebagai gambaran pertambahan penduduk yang saangat cepat di pulau Jawa menyebabkan perubahan struktur kemasyarakatan, terutama yang berkaitan dengan lembaga-lembaga kemasyarakatan seperti pemahaman terhadap hak atas tanah, sistem gadai tanah, dan sewa tanah yang sebelumnya tidak dikenal secara luas. Perpindahan penduduk atau migrasi menyebabkan berkurangnya jumlah penduduk di suatu daerah, sehingga banyak lahan yang tidak terurus dan lembaga-lembaga kemasyarakatan akan terpengaruh. Pengaruh akibat migrasi yang akan terlihat secara langsung adalah dalam sistem pembagian kerja dan stratifikasi sosial.
2. Penemuan baru; proses perubahan yang besar pengaruhnya tetapi terjadi dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama disebut sebagai inovasi. Proses tersebut meliputi suatu penemuan baru, masuknya unsur kebudayaan baru yang terebar ke berbagai bagian masyarakat. Penemuan baru dibedakan dalam dua pengertian, yaitu Discovery dan Invention.
Discovery adalah penemuan daru suatu unsur kebudayaan yang baru, baik berupa suatu alat atau pun berupa ide-ide baru yang diciptakan oleh seseorang atau bisa juga merupakan rangkaian ciptaan dari individu-individu dalam suatu masyarakat. Discovery baru akan menjadi invention bila masyarakat sudah mengakui, menerima, serta menerapkan penemuan baru yang ada. Penemuan-penemuan baru dapat tercipta bila ada kondisi yang menjadi stimulus, seperti :
a. Kesadaran dari individu akan adanya kekurangan dalam kebudayaan mereka
b. Kualitas ahli-ahli dalam satu kebudayaan yang terus mencari pembaharuan

3. Pertentangan atau konflik dalam masyarakat; dapat menjadi sebab timbulnya perubahan kebudayaan. Pertentangan yang terjadi bisa antara orang perorangan, perorangan dengan kelompok, atau kelompok dengan kelompok. Sebagai contoh pertentangan antar kelompok yaitu pertentangan antara generasi tua dengan generasi muda. Pertentangan antar generasi kerapkali terjadi pada masyarakat-masyarakat yang sedang berkembang dari tahap tradisional ke tahap modern.

4. Pemberontakan atau revolusi di dalam tubuh masyarakat itu sendiri; perubahan yang terjadi sebagai akibat revolusi merupakan perubahan besar yang mempengaruhi seluruh sistem lembaga-lembaga kemasyarakatan.
Soekanto (1994 : 330 – 332) menyatakan bahwa selain pengaruh besar yang berasal dari dalam masyarakat, ada pula pengaruh yang datang dari luar masyarakat, seperti :
1. Dari lingkungan alam fisik di sekitar manusia seperti banjir, gempa bumi, tanah longsor yang menyebabkan manusia seringkali harus berpindah tempat tinggal dan menyesuaikan diri dengan tempat tinggal yang baru. Contoh pada masyarakat pantai yang tertimpa musibah tsunami, semula mata pencaharian sebagai nelayan, ketika mereka harus pindah tempat tinggal di daerah dataran tinggi, maka mereka harus belajar hidup dari kegiatan pertanian.
2. Peperangan dengan negara lain bisa menyebabkan negara taklukan harus bersedia menerima kebudayaan yang dianggap lebih tinggi derajatnya oleh negara penguasa. Contoh : Jepang setelah kalah dalam Perang Dunia II mngalami perubahan, dari bentuk negara agraris-militer menjadi negara industri.
3. Pengaruh kebudayaan masyarakat lain. Hubungan yang dilakukan secara fisik antara dua kelompok masyarakat atau lebih, mempunyai kecenderungan menimbulkan pengaruh timbal balik bagi masing-masing kebudayaan.
Perubahan kebudayaan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat senantiasa melalui tahapan beberapa bentuk proses. Proses perubahan kebudayaan sangat ditentukan oleh beberapa faktor yang mempengaruhi, antara lain (Ibid, 333 – 337) :
1) Adanya kontak dengan kebudayaan lain atau diffusi. Proses ini merupakan penyebaran unsur-unsur kebudayaan dari individu ke individu lain atau dari satu masyarakat ke satu masyarakat yang lain.
2) Sistem pendidikan formal yang maju. Pendidikan memberikan suatu nilai-nilai tertentu bagi manusia, untuk menguasai berbagai ilmu dan pengetahuan, juga mengajarkan bagaimana manusia bisa berfikir secara oyektif, sehingga mampu menilai kebudayaan masyarakatnya apakah dapat memenuhi kebutuhan sesuai perkembangan zaman atau tidak.
3) Sikap menghargai hasil karya seseorang serta keinginan-keinginan untuk maju.
4) Toleransi terhadap perbuatan-perbuatan menyimpang (deviasi) tetapi bukan yang bersifat kriminal.
5) Stratifikasi sosial masyarakat yang bersifat terbuka, sehingga nenberikan kesempatan kepada seseorang untuk maju dan mendapatkan kedudukan sosial yang lebih tinggi.
6) Penduduk yang heterogen. Masyarakat-masyarakat yang terdiri dari kelompok-kelompok sosial yang mempunyai latar belakang kebudayaan yang berbeda akan mempermudah terjadinya kegoncangan budaya, dan selajutnya menjadi pendorong bagi terjadinya perubahan-perubahan dalam masyarakat.
7) Ketidakpuasan masyarakat terhadap bidang-bidang kehidupan tertentu.
8) Orientasi ke masa depan dan adanya nilai-nilai bahwa manusia harus senantiasa memperbaiki kulitas hidup.

C. Implikasi Dinamika Kebudayaan Dalam Masyarakat
Masyarakat dan kebudayaan saling ketergantungan satu sama lain. Masyarakat tidak mungkin merupakan satu kesatuan fungsional tanpa kebudayaan, demikian sebaliknya. Atas daar hubungan fungsional inilah maka dalam masyarakat tercipta Esprit de corps dan para anggotanya dapat hidup dan bekerjasama dalam sgala aspek kehidupan (Linton, 1984 : 195).
Dinamika kebudayaan di dalam masyarakat terjadi melalui serangkaian proses yang memerlukan waktu dan membawa konsekuensi logis terhadap berbagai bidang kehidupan masyarakat. Kebudayaan merupakan suatu sistem yang menjadi penopang dan pengatur keberadaan suatu masyarakat, sehingga harus senantiasa dalam kondisi dinamis. Selain itu, kebudayaan juga harus mampu bersifat adaptif, selalu menyesuaikan diri terhadap lingkungan biogeofisik maupun lingkungan sosial-budaya para pendukung kebudayaan.
Peran individu-individu sebagai anggota masyarakat menjadi sangat strategis dalam mengantisipasi perubahan kebudayaan, meskipun partisipasi yang diberikan belum tentu sempurna. Berbagai analisis yang bisa dilakukan, terutama pada masyarakat dengan kebudayaan yang homogen adalah ditemukannya paling tidak 3 (tiga) kategori tingkat kesulitan, yaitu :
1. Ada ide-ide kebiasaan dan tanggapan bersyarat yang sama bagi semua anggota masyarakat. Kategori ini merangkum asosiasi dan nilai-nilai yang sebagian besar berada di bawah sadar, tetapi yang sebenarnya merupakan bagian integral dari kebudayaan.
2. Ada unsur-unsur kebudayaan yang hanya dinikmati oleh para anggota, yang termasuk didalam kategori individu-individu tertentu yang mendapat pengakuan sosial di dalam masyarakat. Kategori ini termasuk : pola-pola yang mengatur aktivitas yang beraneka ragam tetapi saling berhubungan dan berlaku bagi berbagai kelompok dari masyarakat di dalam pembagian kerja.
3. Ada sejumlah unsur-unsur yang hanya dinikmati oleh individu-individu tertentu, tetapi dapat diakatakan asing bagi seluruh anggota masyarakat atau asing juga bagi semua anggota dari setiap kategori individu-individu yang mendapat pengakuan sosial.
Menurut Parsons sebagaimana dikutip Poerwanto (2000: 153), setiap perubahan budaya akan menimbulkan ketidakseimbangan terhadap nilai-nilai budaya dan sistem sosial masyarakat yang sudah lebih dahulu ada. Namun pada gilirannya akan tercipta pula serangkaian upaya yang berfungsi untuk menjaga terciptanya keseimbangan nilai-nilai budaya dari para pendukung kebudayaan.
Berbagai perubahan sosial dan kebudayaan akan membawa akibat menguntungkan dan merugikan bagi masyarakat. Jika suatu perubahan terjadi, maka masyarakat pendukungnya harus siap melakukan modifikasi pola tingkah laku. Sebagaimana dikemukakan oleh Sahlins dalam Poerwanto (2000: 140), bahwa dalam menghadapi lingkungan fisik, manusia cenderung melakukan pendekatan budaya dalam bentuk sistem simbol, makna dan sistem nilai.
Implikasi dinamika kebudayaan seharusnya bertujuan untuk menciptakan perbaikan kualitas hidup bagi semua anggota masyarakat. Perubahan sosial dan kebudayaan yang terjadi hendaknya membuat masyarakat dapat menikmati hidup yang layak. Bila kita perhatikan, perubahan budaya lebih mengarah pada upaya menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas, cerdas, dan terampil dalam era persaingan global.
Mengetahui laju pertumbuhan ekonomi bangsa kita yang mulai banyak bergerak dalam bidang industri, seharusnya pemerintah tetap mengupayakan keseimbangan lahan usaha dengan konservasi alam dan pemukiman penduduk. Namun sangat disayangkan, lahan untuk konservasi alam semakin sempit. Dengan demikian perubahan budaya masih belum berhasil menciptakan keseimbangan antara kebutuhan manusia dengan kondisi alam wilayah negara kita.
Begitu banyak wujud kemajuan dan keuntungan sudah kita peroleh akibat perubahan kebudayaan. Namun kita tidak boleh lupa bahwa kehidupan bangsa kita menjadi lebih baik dan berkualitas tinggi karena adanya dinamika kebudayaan tetapi bisa juga kehidupan masyarakat kita mengalami kemerosotan moral dan nilai-nilai luhur akibat dinamika kebudayaan.
Parsons menyatakan bahwa masyarakat tersusun dari empat subsistem yang berbeda, yang masing-masing subsistem mempunyai fungsi untuk memecahkan persoalan tertentu. Bahkan Parsons mengklaim bahwa keempat subsistem tersebut harus ada dalam suatu masyarakat jika masyarakat itu mau bertahan untuk waktu yang sangat panjang (Mudji Sutrisno & Hendar Putranto, 2005 : 59). Keempat subsistem tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Adaptation; adalah cara sistem beradaptasi dengan dunia material dan pemenuhan kebutuhan material untuk dapat bertahan hidup (pangan, sandang, dan papan). Aspek ekonomi sangat penting dalam subsistem ini.
2. Goal attainment; adalah pencapaian tujuan. Subsistem ini berurusan dengan hasil atau produk dari sistem dan kepemimpinan. Politik menjadi panglima dalam subsistem ini.
3. Integration; adalah penyatuan subsistem yang berkenaan dengan menjaga tatanan. Sistem hukum, lembaga-lembaga atau komunitas-komunitas yang memperjuangkan tatanan sosial termasuk dalam kelompok ini.
4. Laten pattern maintenance and tension management; mengacu kepada kebutuhan masyarakat untuk mempunyai arah panduan yang jelas dan gugus tujuan dari tindakan. Lembaga-lembaga yang ada dalam subsistem ini bertugas untuk memproduksi nilai-nilai budaya, menjaga solidaritas, dan mensosialisasikan nilai-nilai. Gereja, sekolah, dan keluarga termasuk dalam subsistem ini.

DAFTAR PUSTAKA

Haviland, William A. 1993. Antropologi Jilid 2. Jakarta : Erlangga.

Horton, Paul B & Chester L. Hunt. 2006 Sosiologi Jilid 1 Edisi Keenam. Jakarta : Erlangga.

Koentjaraningrat. 2003. Pengantar Antropologi I. Jakarta : Rineka Cipta.

Linton, Ralph. 1984. The Study of Man. Bandung : Jemmars.

Poerwanto, Hari. 2000. Kebudayaa dan Lingkungan Dalam Perspektif Antropologi. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Soekanto, Soerjono. 1994. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali.

Sutrisno, Mudji dan Hendar Putranto, ed. 2005. Teori Teori Kebudayaan. Yogyakarta : Kanisius.

DINAMIKA KEBUDAYAAN

Budiaman

A. Pengertian Dinamika Kebudayaan

Manusia dan kebudayaan merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, karena manusia adalah pendukung keberadaan suatu kebudayaan. Kebudayaan pada suatu masyarakat harus senantiasa memiliki fungsi yang dapat menunjang pemenuhan kebutuhan bagi para anggota pendukung kebudayaan. Kebudayaan harus dapat menjamin kelestarian kehidupan biologis, memelihara ketertiban, serta memberikan motivasi kepada para pendukungnya agar dapat terus bertahan hidup dan melakukan kegiatan-kegiatan untuk kelangsungan hidup.
Dalam jangka waktu tertentu, semua kebudayaan mengalami perubahan. Leslie White (1969) mengemukakan bahwa kebudayaan merupakan fenomena yang selalu berubah sesuai dengan lingkungan alam sekitarnya dan keperluan suatu komunitas pendukungnya. Sependapat dengan itu Haviland (1993 : 251) menyebut bahwa salah satu penyebab mengapa kebudayaan berubah adalah lingkungan yang dapat menuntut kebudayaan yang bersifat adaptif. Dalam konteks ini perubahan lingkungan yang dimaksud bisa menyangkut lingkungan alam maupun sosial.
Berkaitan dengan perubahan kebudayaan, Kingsley Davis berpendapat bahwa perubahan-perubahan sosial dalam masyarakat merupakan bagian dari perubahan kebudayaan (Poerwanto, 2000 : 142). Perubahan-peribahan dalam kebudayaan mencakup seluruh bagian kebudayaan, termasuk kesenian, ilmu pengetahuan, teknologi, filsafat, bahkan dalam bentuk dan aturan-aturan organisasi sosial. Ruang lingkup perubahan kebudayaan lebih luas, sudah tentu ada unsur-unsur kebudayaan yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat. Namun demikian setiap perubahan kebudayaan tidak perlu harus mempengaruhi sistem sosial masyarakat yang sudah ada sebelumnya.
Ruang lingkup perubahan kebudayaan lebih menekankan pada ide-ide yang mencakup perubahan dalam hal norma-norma dan aturan-aturan yang dijadikan sebagai landasan berperilaku dalam masyarakat. Sedangkan perubahan sosial lebih menunjuk pada perubahan terhadap struktur dan pola-pola hubungan sosial, yang antara lain mencakup sistem status, politik dan kekuasaan, persebaran penduduk, dan hubungan-hubungan dalam keluarga. Melihat unit analisis perubahan masing-masing perubahan tersebut, maka dapat dimengerti mengapa perubahan kebudayaan memerlukan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan perubahan sosial.
Dinamika kebudayaan identik dengan perubahan unsur- unsur kebudayaan universal, yang apabila ditinjau dalam kenyataan kehidupan suatu masyarakat, tidak semua unsur mengalami perkembangan yang sama. Ada unsur kebudayaan yang mengalami perubahan secara cepat, ada pula yang lambat, bahkan sulit berubah. Apabila mengkaji pengertian kebudayaan menurut Antropolog Inggris Edward Burnett Tylor (Horton & Hunt, 2006 : 58) sebagai suatu kompleks keseluruhan yang meliputi pengetahuan, keyakinan, kesenian, hukum, moral, adat, semua kemampuan dan kebiasaan lain yang diperoleh seseorang sebagai anggota masyarakat; maka tingkat perubahan unsur tersebut menjadi sangat variatif antara satu masyarakat dengan masyarakat yang lain.
Untuk memudahkan pengertian mengenai tingkat kesulitan perubahan unsur-unsur kebudayaan, Koentjaraningrat (2003 : 81) menguraikan 7 (tujuh) unsur kebudayaan universal yang diasumsikan memiliki tingkat perubahan dari yang paling mudah sampai yang paling sulit yaitu :
1) Sistem peralatan hidup dan teknologi
2) Sistem mata pencaharian hidup
3) Organisasi sosial
4) Kesenian
5) Sistem pengetahuan
6) Bahasa
7) Sistem religi
Perubahan kebudayaan sebagai suatu kenyataan, didasari oleh seperangkat teori yang menjelaskan analisis kausal antara konsep-konsep yang relevan. Teori-teori yang menguraikan proses perubahan sosial dan budaya antara lain (Pelly & Menanti, 1994 : 200 – 201) :
1. Teori Sosio Historis Siklus dalam asumsi dasarnya mengemukakan bahwa peradaban manusia berkembang menurut suatu lingkaran atau siklus. Tokoh-tokoh teori ini adalah Ibnu Chaldun, Arnold Toynbee, dan Sorokin.
2. Teori Sosio Historis Perkembangan atau Linear lebih optimis dibanding penganut teori Sosio Historis Siklus. Hal ini didasarkan pada kepercayaan mereka terhadap kesempurnaan kemampuan manusia; proses perkembangan peradaban manusia diasumsikan menuruti garis lurus, makin berkembang makin baik.
3. Teori Psikologi Sosial banyak memberikan sumbangan dalam perkembangan teori perubahan sosial terutama teori-teori tentang : (a) kepribadian kreatif, (b) kepribadian prestasi, dan (c) individu modern. Asumsi dasar dari teori-teori Psikologi Sosial yaitu individu-individu dengan kegiatan dan kreativitasnya akan dapat menggerakkan perubahan sosial.

B. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Dinamika Kebudayaan

Masyarakat akan mengatur perilaku mereka dalam hubungan dengan alam dan lingkungannya, termasuk didalamnya cara berinteraksi sosial dengan sesama anggota masyarakat maupun dengan dunia supranatural menurut kepercayaan yang diyakini. Perubahan kebudayaan dapat terjadi sebagai akibat dari adanya perubahan lingkungan maupun adanya mekanisme akibat munculnya penemuan-penemuan baru atau invensi, difusi, hilangnya unsur kebudayaan, dan akulturasi.
Sairin (2002 : 1) mengemukakan bahwa kebudayaan sebagai suatu sistem pengetahuan, gagasan atau ide yang dimiliki oleh kelompok masyarakat yang befungsi sebagai landasan dan pedoman bagi masyarakat tersebut dalam berperilaku. Sebagai sistem pengetahuan dan gagasan, kebudayaan yang dimiliki masyarakat merupakan kekuatan yang tidak tampak atau invisible power yang mampu mengarahkan manusia pendukung kebudayaan itu untuk bersikap dan berperilaku sesuai dengan pengetahuan dan gagasan yang menjadi milik bersama, bauik di bidang ekonomi, sosial, politik, kesenian, dan sebagainya. Oleh karena itu, kebudayaan bukan hanya terbatas pada kegiatan kesenian, peninggalan sejarah, atau upacara-upacara tradisional seperti yang dipahami oleh banyak kalangan selama ini.
Lebih jauh Sairin (2002 : 2) mengemukakan bahwa sebagai suatu sistem, kebudayaan tidak diperoleh manusia dengan begitu saja, tetapi melalui proses belajar yang berlangsung tanpa henti sejak manusia dilahirkan sampai ajal menjelang. Proses belajar dalam konteks ini, bukan hanya dalam bentuk proses internalisasi dari sistem pengetahuan yang diperoleh melalui pewarisan atau transmisi dalam keluarga, lewat sistem pendidikan formal di sekolah, atau lembaga pendidikan formal lainnya, tetapi juga diperoleh melalui proses belajar dari berinteraksi dengan lingkungan alam dan sosialnya.
Belajar merupakan kata kunci dalam membicarakan transmisi kebudayaan. Konsep ini sangat penting kedudukannya dalam menganalisis berbagai masalah kebudayaan, karena memberikan petunjuk yang jelas bahwa manusia buksnlsh mshluk ysng statis dan dapat diperlakukan semena-mena, tetapi manusia adalah mahluk yang berakal, berpikir, dan melakukan penilaian sebelum memutuskan untuk bersikap pada sesuatu yang dihadapinya. Akal yang dimiliki manusia merupakan alat utama dalam menyaring, memahami, dan mempertimbangkan berbagai masukan yang diterima dari alam sekitarnya sebelum mengambil keputusan dalam bersikap terhadap sesuatu.
Dalam konteks yang lebih sederhana, kebudayaan adalah segala sesuatu yang dipelajari dan dialami secara sosial oleh para anggota masyarakat. Seseorang menerima kebudayaan sebagai bagian dari warisan sosial dan pada gilirannya, bisa membentuk kebudayaan kembali dan mengenalkan perubahan-perubahan yang kemudian menjadi bagian dari warisan generasi yang berikutnya (Horton & Hunt, 2006 : 58).
Selain karakteristik kebudayaan diperoleh melalui prose belajar, salah satu karakteristik lain dari kebudayaan yaitu sifat dinamis. Kebudayaan selalu berubah dan menyesuaikan diri dengan kebutuhan masyarakat. Sifat manusia yang tidak pernah puas dalam upaya pemenuhan kebutuhan yang semakin bermutu dan bervariasi menyebabkan manusia berupaya untuk membuat inovasi-inovasi baru. Berbagai unsur kebudayaan masyarakat Indonesia pada 25 tahun yang lalu, tanpa terasa sudah berubah pada saat-saat ini. Perubahan tersebut bukan semata-mata terjadi pada aspek kebudayaan materil melainkan juga pada aspek immateril.
Menurut Poerwanto (2000 : 143) sebab umum terjadinya perubahan kebudayaan lebih banyak dari adanya ketidakpuasan masyarakat, sehingga masyarakat berusaha mengadakan penyesuaian. Penyebab perubahan bisa saja bersumber dari dalam masyarakat, dari luar masyarakat atau karena faktor lingkungan alam sekitarnya. Faktor perubahan yang bersumber dari dalam masyarakat antara lain adalah :
1. Faktor demografi; yaitu bertambah atau berkurangnya jumlah penduduk. Sebagai gambaran pertambahan penduduk yang saangat cepat di pulau Jawa menyebabkan perubahan struktur kemasyarakatan, terutama yang berkaitan dengan lembaga-lembaga kemasyarakatan seperti pemahaman terhadap hak atas tanah, sistem gadai tanah, dan sewa tanah yang sebelumnya tidak dikenal secara luas. Perpindahan penduduk atau migrasi menyebabkan berkurangnya jumlah penduduk di suatu daerah, sehingga banyak lahan yang tidak terurus dan lembaga-lembaga kemasyarakatan akan terpengaruh. Pengaruh akibat migrasi yang akan terlihat secara langsung adalah dalam sistem pembagian kerja dan stratifikasi sosial.
2. Penemuan baru; proses perubahan yang besar pengaruhnya tetapi terjadi dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama disebut sebagai inovasi. Proses tersebut meliputi suatu penemuan baru, masuknya unsur kebudayaan baru yang terebar ke berbagai bagian masyarakat. Penemuan baru dibedakan dalam dua pengertian, yaitu Discovery dan Invention.
Discovery adalah penemuan daru suatu unsur kebudayaan yang baru, baik berupa suatu alat atau pun berupa ide-ide baru yang diciptakan oleh seseorang atau bisa juga merupakan rangkaian ciptaan dari individu-individu dalam suatu masyarakat. Discovery baru akan menjadi invention bila masyarakat sudah mengakui, menerima, serta menerapkan penemuan baru yang ada. Penemuan-penemuan baru dapat tercipta bila ada kondisi yang menjadi stimulus, seperti :
a. Kesadaran dari individu akan adanya kekurangan dalam kebudayaan mereka
b. Kualitas ahli-ahli dalam satu kebudayaan yang terus mencari pembaharuan

3. Pertentangan atau konflik dalam masyarakat; dapat menjadi sebab timbulnya perubahan kebudayaan. Pertentangan yang terjadi bisa antara orang perorangan, perorangan dengan kelompok, atau kelompok dengan kelompok. Sebagai contoh pertentangan antar kelompok yaitu pertentangan antara generasi tua dengan generasi muda. Pertentangan antar generasi kerapkali terjadi pada masyarakat-masyarakat yang sedang berkembang dari tahap tradisional ke tahap modern.

4. Pemberontakan atau revolusi di dalam tubuh masyarakat itu sendiri; perubahan yang terjadi sebagai akibat revolusi merupakan perubahan besar yang mempengaruhi seluruh sistem lembaga-lembaga kemasyarakatan.
Soekanto (1994 : 330 – 332) menyatakan bahwa selain pengaruh besar yang berasal dari dalam masyarakat, ada pula pengaruh yang datang dari luar masyarakat, seperti :
1. Dari lingkungan alam fisik di sekitar manusia seperti banjir, gempa bumi, tanah longsor yang menyebabkan manusia seringkali harus berpindah tempat tinggal dan menyesuaikan diri dengan tempat tinggal yang baru. Contoh pada masyarakat pantai yang tertimpa musibah tsunami, semula mata pencaharian sebagai nelayan, ketika mereka harus pindah tempat tinggal di daerah dataran tinggi, maka mereka harus belajar hidup dari kegiatan pertanian.
2. Peperangan dengan negara lain bisa menyebabkan negara taklukan harus bersedia menerima kebudayaan yang dianggap lebih tinggi derajatnya oleh negara penguasa. Contoh : Jepang setelah kalah dalam Perang Dunia II mngalami perubahan, dari bentuk negara agraris-militer menjadi negara industri.
3. Pengaruh kebudayaan masyarakat lain. Hubungan yang dilakukan secara fisik antara dua kelompok masyarakat atau lebih, mempunyai kecenderungan menimbulkan pengaruh timbal balik bagi masing-masing kebudayaan.
Perubahan kebudayaan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat senantiasa melalui tahapan beberapa bentuk proses. Proses perubahan kebudayaan sangat ditentukan oleh beberapa faktor yang mempengaruhi, antara lain (Ibid, 333 – 337) :
1) Adanya kontak dengan kebudayaan lain atau diffusi. Proses ini merupakan penyebaran unsur-unsur kebudayaan dari individu ke individu lain atau dari satu masyarakat ke satu masyarakat yang lain.
2) Sistem pendidikan formal yang maju. Pendidikan memberikan suatu nilai-nilai tertentu bagi manusia, untuk menguasai berbagai ilmu dan pengetahuan, juga mengajarkan bagaimana manusia bisa berfikir secara oyektif, sehingga mampu menilai kebudayaan masyarakatnya apakah dapat memenuhi kebutuhan sesuai perkembangan zaman atau tidak.
3) Sikap menghargai hasil karya seseorang serta keinginan-keinginan untuk maju.
4) Toleransi terhadap perbuatan-perbuatan menyimpang (deviasi) tetapi bukan yang bersifat kriminal.
5) Stratifikasi sosial masyarakat yang bersifat terbuka, sehingga nenberikan kesempatan kepada seseorang untuk maju dan mendapatkan kedudukan sosial yang lebih tinggi.
6) Penduduk yang heterogen. Masyarakat-masyarakat yang terdiri dari kelompok-kelompok sosial yang mempunyai latar belakang kebudayaan yang berbeda akan mempermudah terjadinya kegoncangan budaya, dan selajutnya menjadi pendorong bagi terjadinya perubahan-perubahan dalam masyarakat.
7) Ketidakpuasan masyarakat terhadap bidang-bidang kehidupan tertentu.
8) Orientasi ke masa depan dan adanya nilai-nilai bahwa manusia harus senantiasa memperbaiki kulitas hidup.

C. Implikasi Dinamika Kebudayaan Dalam Masyarakat
Masyarakat dan kebudayaan saling ketergantungan satu sama lain. Masyarakat tidak mungkin merupakan satu kesatuan fungsional tanpa kebudayaan, demikian sebaliknya. Atas daar hubungan fungsional inilah maka dalam masyarakat tercipta Esprit de corps dan para anggotanya dapat hidup dan bekerjasama dalam sgala aspek kehidupan (Linton, 1984 : 195).
Dinamika kebudayaan di dalam masyarakat terjadi melalui serangkaian proses yang memerlukan waktu dan membawa konsekuensi logis terhadap berbagai bidang kehidupan masyarakat. Kebudayaan merupakan suatu sistem yang menjadi penopang dan pengatur keberadaan suatu masyarakat, sehingga harus senantiasa dalam kondisi dinamis. Selain itu, kebudayaan juga harus mampu bersifat adaptif, selalu menyesuaikan diri terhadap lingkungan biogeofisik maupun lingkungan sosial-budaya para pendukung kebudayaan.
Peran individu-individu sebagai anggota masyarakat menjadi sangat strategis dalam mengantisipasi perubahan kebudayaan, meskipun partisipasi yang diberikan belum tentu sempurna. Berbagai analisis yang bisa dilakukan, terutama pada masyarakat dengan kebudayaan yang homogen adalah ditemukannya paling tidak 3 (tiga) kategori tingkat kesulitan, yaitu :
1. Ada ide-ide kebiasaan dan tanggapan bersyarat yang sama bagi semua anggota masyarakat. Kategori ini merangkum asosiasi dan nilai-nilai yang sebagian besar berada di bawah sadar, tetapi yang sebenarnya merupakan bagian integral dari kebudayaan.
2. Ada unsur-unsur kebudayaan yang hanya dinikmati oleh para anggota, yang termasuk didalam kategori individu-individu tertentu yang mendapat pengakuan sosial di dalam masyarakat. Kategori ini termasuk : pola-pola yang mengatur aktivitas yang beraneka ragam tetapi saling berhubungan dan berlaku bagi berbagai kelompok dari masyarakat di dalam pembagian kerja.
3. Ada sejumlah unsur-unsur yang hanya dinikmati oleh individu-individu tertentu, tetapi dapat diakatakan asing bagi seluruh anggota masyarakat atau asing juga bagi semua anggota dari setiap kategori individu-individu yang mendapat pengakuan sosial.
Menurut Parsons sebagaimana dikutip Poerwanto (2000: 153), setiap perubahan budaya akan menimbulkan ketidakseimbangan terhadap nilai-nilai budaya dan sistem sosial masyarakat yang sudah lebih dahulu ada. Namun pada gilirannya akan tercipta pula serangkaian upaya yang berfungsi untuk menjaga terciptanya keseimbangan nilai-nilai budaya dari para pendukung kebudayaan.
Berbagai perubahan sosial dan kebudayaan akan membawa akibat menguntungkan dan merugikan bagi masyarakat. Jika suatu perubahan terjadi, maka masyarakat pendukungnya harus siap melakukan modifikasi pola tingkah laku. Sebagaimana dikemukakan oleh Sahlins dalam Poerwanto (2000: 140), bahwa dalam menghadapi lingkungan fisik, manusia cenderung melakukan pendekatan budaya dalam bentuk sistem simbol, makna dan sistem nilai.
Implikasi dinamika kebudayaan seharusnya bertujuan untuk menciptakan perbaikan kualitas hidup bagi semua anggota masyarakat. Perubahan sosial dan kebudayaan yang terjadi hendaknya membuat masyarakat dapat menikmati hidup yang layak. Bila kita perhatikan, perubahan budaya lebih mengarah pada upaya menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas, cerdas, dan terampil dalam era persaingan global.
Mengetahui laju pertumbuhan ekonomi bangsa kita yang mulai banyak bergerak dalam bidang industri, seharusnya pemerintah tetap mengupayakan keseimbangan lahan usaha dengan konservasi alam dan pemukiman penduduk. Namun sangat disayangkan, lahan untuk konservasi alam semakin sempit. Dengan demikian perubahan budaya masih belum berhasil menciptakan keseimbangan antara kebutuhan manusia dengan kondisi alam wilayah negara kita.
Begitu banyak wujud kemajuan dan keuntungan sudah kita peroleh akibat perubahan kebudayaan. Namun kita tidak boleh lupa bahwa kehidupan bangsa kita menjadi lebih baik dan berkualitas tinggi karena adanya dinamika kebudayaan tetapi bisa juga kehidupan masyarakat kita mengalami kemerosotan moral dan nilai-nilai luhur akibat dinamika kebudayaan.
Parsons menyatakan bahwa masyarakat tersusun dari empat subsistem yang berbeda, yang masing-masing subsistem mempunyai fungsi untuk memecahkan persoalan tertentu. Bahkan Parsons mengklaim bahwa keempat subsistem tersebut harus ada dalam suatu masyarakat jika masyarakat itu mau bertahan untuk waktu yang sangat panjang (Mudji Sutrisno & Hendar Putranto, 2005 : 59). Keempat subsistem tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Adaptation; adalah cara sistem beradaptasi dengan dunia material dan pemenuhan kebutuhan material untuk dapat bertahan hidup (pangan, sandang, dan papan). Aspek ekonomi sangat penting dalam subsistem ini.
2. Goal attainment; adalah pencapaian tujuan. Subsistem ini berurusan dengan hasil atau produk dari sistem dan kepemimpinan. Politik menjadi panglima dalam subsistem ini.
3. Integration; adalah penyatuan subsistem yang berkenaan dengan menjaga tatanan. Sistem hukum, lembaga-lembaga atau komunitas-komunitas yang memperjuangkan tatanan sosial termasuk dalam kelompok ini.
4. Laten pattern maintenance and tension management; mengacu kepada kebutuhan masyarakat untuk mempunyai arah panduan yang jelas dan gugus tujuan dari tindakan. Lembaga-lembaga yang ada dalam subsistem ini bertugas untuk memproduksi nilai-nilai budaya, menjaga solidaritas, dan mensosialisasikan nilai-nilai. Gereja, sekolah, dan keluarga termasuk dalam subsistem ini.

DAFTAR PUSTAKA

Haviland, William A. 1993. Antropologi Jilid 2. Jakarta : Erlangga.

Horton, Paul B & Chester L. Hunt. 2006 Sosiologi Jilid 1 Edisi Keenam. Jakarta : Erlangga.

Koentjaraningrat. 2003. Pengantar Antropologi I. Jakarta : Rineka Cipta.

Linton, Ralph. 1984. The Study of Man. Bandung : Jemmars.

Poerwanto, Hari. 2000. Kebudayaa dan Lingkungan Dalam Perspektif Antropologi. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Soekanto, Soerjono. 1994. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali.

Sutrisno, Mudji dan Hendar Putranto, ed. 2005. Teori Teori Kebudayaan. Yogyakarta : Kanisius.

KEHIDUPAN MASYARAKAT MULTIKULTUR
Budiaman

A. Hakikat dan Makna Multikulturalisme
Multikulturalisme masyarakat Indonesia merupakan kenyataan sosial budaya yang seharusnya dilihat sebagai sesuatu yang alamiah dalam pengertian membicarakannya dalam proporsi yang berimbang. Multikulturalisme secara sosial budaya berarti menempatkan semua pembicaraan tentang suku bangsa pada suatu tingkatan yang sederajat. Kompleksitas permasalahan kesukubangsaan tidak direfleksikan oleh banyaknya warga komunitas, tetapi lebih melihat kepada substansi problema yang dihadapi dalam rangka menegakkan rasa kebangsaan (Abdul Rachman Patji, 2001 : 1).
Dalam pandangan yang serupa, Havilland (1993 : 289) mengartikan multikulturalisme merupakan interaksi sosial dan politik antara orang-orang yang berbeda cara hidup dan berfikirnya dalam masyarakat yang sama. Secara ideal, multikulturalisme berarti penolakan kefanatikan, prasangka, rasisme, dan penerimaan sikap menghargai kebudayaan tradisional orang lain. Kebudayaan pada dasarnya merupakan suatu entitas keberagaman yang menunjukkan diri sebagai keniscayaan dalam pluralisme. Multikulturalisme kemudian menjadi suatu kondisi yang tidak terbantahkan karena masing-masing entitas perbedaan dengan sendirinya menghendaki karakter yang beragam. Isu-isu yang lahir dalam multikulturalisme adalah perbedaan untuk satu kualitas persamaan (equality). Entitas perbedaan layaknya ras, religi, feminitas, kelas, etnisitas, mempunyai hak yang sama dalam kualitas, kelayakan dan keberlangsungan hidup (Ubed Abdillah, 2002 : 179).
Filsafat multikulturalisme menurut pandangan Habermas berangkat dari perbedaan kondisi sosial dan budaya dimana perbedaan tersebut sangat berpengaruh terhadap timbulnya berbagai konflik. Untuk mencegah timbulnya konflik akibat perbedaan dalam masyarakat, Habermas menganjurkan agar para warga negara dipersatukan oleh adanya “mutual respect” terhadap hak-hak orang lain. Sementara menurut pemikiran Taylor, suatu masyarakat dengan tujuan kolektif yang kuat dapat saja bersifat liberal; dengan catatan bahwa mereka juga menghormati keanekaragaman khususnya apabila berhubungan dengan siapa yang tidak menyetujui tujuan bersama tersebut. Selanjutnya mereka dapat menjamin suatu keadaan yang mengakui hak-hak fundamentalnya (Tilaar, 2004 : 24).
Studi Antropologi dan Sosiologi tentang masyarakat majemuk selalu menggambarkan bahwa multikulturalisme merupakan ideologi dari masyarakat multikultur. Beberapa pengertian multikulturalisme antara lain :
1. Multikulturalisme adalah konsep yang menjelaskan dua perbedaan yang saling berkaitan, (1) multikulturalisme sebagai kondisi kemajemukan kebudayaan atau pluralisme budaya dari suatu masyarakat. Kondisi ini diasumsikan dapat membentuk sikap toleransi, (2) multikulturalisme merupakan seperangkat kebijakan pemerintah pusat yang dirancang sedemikian rupa agar seluruh masyarakat dapat memberikan perhatian kepada kebudayaan dari semua kelompok etnik atau suku bangsa.
2. Multikulturalisme merupakan konsep sosial yang diintroduksi ke dalam pemerintahan agar pemerintah dapat menjadikannya sebagai kebijakan, karena hanya pemerintah yang dianggap representatif ditempatkan di atas kepentingan maupun praktik budaya dari semua kelompok etnik dalam suatu bangsa.
3. Multikulturalisme dikaitkan dengan pendidikan, merupakan strategi pendidikan yang memanfaatkan keragaman latar belakang kebudayaan dari para peserta didik sebagai salah satu kekuatan untuk membentuk sikap multikultural. Strategi ini sangat bermanfaat, setidaknya dari sekolah sebagai lembaga pendidikan dapat membentuk pemahaman bersama atas konsep kebudayaan, perbedaan budaya, keseimbangan, dan demokrasi dalam artian yang luas.
4. Multikulturalisme sebagai sebuah ideologi merupakan gagasan untuk bertukar pengetahuan kebudayaan atau perilaku budaya. Kita diajak untuk menerima standar umum kebudayaan yang dapat membimbing kehidupan kita dalam sebuah masyarakat yang majemuk.
5. Multikulturalisme merupakan konsep pembudayaan, karena pendidikan merupakan proses pembudayaan, maka masyarakat multikultural hanya dapat diciptakan melalui proses pendidikan.

B. Ciri Ciri Masyarakat Multikultur
Ciri utama masyarakat multikultur menurut Furnivall (1949) adalah orang hidup berdampingan secara fisik, tetapi karena perbedaan sosial budaya mereka terpisah dan tidak bergabung dalam suatu unit politik. Furnivall adalah sarjana yang pertama menemukan dan memperkenalkan terminologi masyarakat multikultur melalui penelitiannya terhadap masyarakat Nederland Indie atau Indonesia tahun 1940.
Dalam studinya Furnivall memperlihatkan gambaran masyarakat sebagai masyarakat multikultur yang menarik. Masyarakat Indonesia di masa kolonial diperintah oleh kelompok ras yang berbeda. Penduduk asli terdiri dari kelompok-kelompok masyarakat yang secara sosial, politik, dan ekonomi terpisah. Ratusan kelompok etnis hidup di kawasan teritorial tersendiri dengan bahasa, sistem sosial budaya yang berbeda-beda dan terpisah satu sama lain serta tersebar di kepulauan Nederland-Indie yang begitu luas. Contoh lain yang dikemukakan Furnivall adalah masyarakat multikultur dalam negara-negara (yang waktu itu sudah merdeka), tetapi masyarakatnya masih tetap terpisah-pisah secara fungsional dalam unit-unit ekonomi. Menurut Furnivall kelompok-kelompok ekonomi itu hidup menyendiri dalam masyarakat negara tersebut sesuai dengan sistem sosialnya masing-masing (Usman Pelly, 1994 : 91).
Pemisahan tersebut seperti juga dalam kasus masyarakat multikultural di Indonesia yang disebabkan oleh adanya perbedaan ras, etnik, adat istiadat, bahasa daerah atau agama. Kanada adalah contoh yang baik untuk dua kelompok masyarakat yang dipisahkan oleh ras Perancis, Inggris, dan Irlandia, dengan nama Protestan dan Katholik. Sedangkan di Eropa Utara masyarakat banyak dipisahkan oleh faktor ekonomi atau okupasi. Sementara di India, Muangthai, dan Cina kelompok-kelompok masyarakatnya dipisahkan oleh kasta agama.
Dalam kaitan yang sama Nathan Glazer mengemukakan bahwa ciri-ciri multikulturalisme yang ada di dalam masyarakat merupakan satu-satunya jalan untuk membentuk toleransi dan demokrasi politik di dunia yang diatasnya tumbuh konflik antara kebudayaan karena perbedaan nilai. Dalam kehidupan masyarakat Indonesia, ciri multikultural sangat mengemuka, keragaman etnik yang berada di dalamnya mengandung dimensi multibudaya.

Kita tidak dapat mengatakan bahwa masyarakat kita merupakan masyarakat multikultural jika kita tidak mempunyai kelompok-kelompok etnik yang berbeda dalam kebudayaan, bahasa, nilai-nilai, adat istiadat, dan tata kelakuan yang diakui sebagai pengetahuan dan jalan positif untuk menciptakan toleransi dalam sebuah komunitas. Kymlicka (2003 : 13) mengemukakan bahwa masyarakat modern sering dihadapkan pada kelompok minoritas yang menuntut pengakuan atas identitas mereka, dan diterimanya perbedaan budaya. Hal tersebut sering disebut tantangan multikulturalisme. Multikulturalisme mencakup berbagai bentuk pluralisme budaya yang berbeda dan masing-masing memiliki tantangan tersendiri.
Fourth National Conference of the Federation of Ethnic Councils of Australia menyatakan bahwa ciri-ciri masyarakat multikultural adalah sebagai berikut :
1. Adanya variasi dari perbedaan budaya.
2. Kebebasan dalam menjalankan perbedaan beragama.
3. Bahasa dan adat sosial yang berbeda.
4. Adanya kepedulian dalam berbagai nilai.
5. Semua kelompok etnik menekankan toleransi budaya, bahasa, dan agama meskipun berbeda antara satu dengan yang lainnya agar mereka tidak kehilangan identitas.

C. Multikulturalisme di Indonesia Sebagai Suatu Realita
Multikulturalisme merupakan masalah yang mendasar serta berkesinambungan serta menentukan hidup matinya bangsa-negara Indonesia. Franz Magnis Suseno mengatakan bahwa di dalam masa kritis yang dilewati bangsa Indonesia pada akhir-akhir ini dengan terjadinya berbagai gesekan horizontal menunjukkan gejala-gejala pengkhianatan terhadap tiga azas kehidupan bangsa Indonesia yaitu : pertama, pengkhianatan terhadap ikrar Sumpah Pemuda tahun 1928, yaitu keinginan untuk membangun suatu bangsa. Kedua, pengkhianatan terhadap kesepakatan untuk hidup bersama di bawah payung Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Gerakan separatisme timbul tentunya karena adanya kekhilafan-kekhilafan yang kita buat sendiri, antara lain adanya sikap meremehkan eksistensi kebhinekaan budaya bangsa Indonesia dan terlalu mementingkan budaya satu atau beberapa kelompok etnis saja. Ketiga, pengkhianatan terhadap ikrar bersama untuk hidup rukun, penuh toleransi, karena diikat oleh satu tujuan yaitu ingin membangun satu masyarakat yang adil-makmur secara merata.
Menurut Tilaar, masalah-masalah yang timbul berkaitan dengan keragaman masyarakat pada hakikatnya berakar dari adanya pengakuan terhadap multikulturalisme dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa Indonesia. Dengan multikulturalisme kita dapat menyoroti masalah-masalah besar sebagimana dikemukakan oleh Gus Dur yaitu masalah agama, kehidupan berbangsa, dan masalah rakyat yang cukup banyak. Di dalam kehidupan beragama perlu dirumuskan adanya kehidupan beragama yang mengedepankan toleransi atau eksklusivisme dan penolakan terhadap berbagai jenis fundamentalisme. Dalam kehidupan berbangsa juga harus dikembangkan pengakuan terhadap adanya budaya yang beraneka ragam dari berbagai etnis bangsa dan akhirnya dalam memecahkan masalah-masalah yang berkaitan dengan kehidupan rakyat banyak agar diadakan pendekatan kultural yang hidup dalam setiap etnis bangsa Indonesia.
Multikulturalisme di Indonesia harus dilihat secara komprehensif tidak hanya pluralisme politik, tetapi juga pluralisme keberagaman agama, dan etnisitas. Peradaban manusia Indonesia akan menghadapi krisis jika pluralisme keberagamaan dan etnisitas tidak bisa ditegakkan. Dengan demikian, pluralisme politik harus berjalan seiring dengan sikap keberagaman, etnis, golongan pengkhayatan, dan ketaatan terhadap hukum; karena hanya dengan demikian demokrasi dapat diwujudkan (Fahruddin Salim, 2001: 18).

Multikulturalisme dalam Masyarakat Indonesia

MASA LALU MASA KINI MASA DEPAN
Multikulturalisme awal :
 Kepulauan nusantara dalam lintas budaya Asia, Arab, dan Eropa.
 Menentang kolonialisme
 Kebangkitan nasional 1908
 Proklamasi kemerdekaan Multikulturalisme pada masa transisi :
Pengaruh :
 Globalisasi
 Demokratisasi
 HAM
 Teknologi informasi Multikulturalisme sebagi dasar terwujudnya :
VISI INDONESIA
MASA DEPAN

Nasionalisme Indonesia baru berbeda dengan nasionalisme sebelumnya, dimana masyarakat bangsa yang berdiri di atas pengakuan akan kebhinekaan masayarakat dan budaya Indonesia, yaitu masyarakat Indonesia yang multikultural. Masyarakat tersebut tidak akan lahir dengan sendirinya tanpa upaya terus-menerus yang dilakukan oleh seluruh bangsa Indonesia. Sebuah masyarakat lahir yang dari proses pembudayaan dan pembudayaan yang lahir dari proses pendidikan multikultural.
Dalam menghadapi zaman yang penuh tantangan untuk membangun satu bangsa Indonesia yang besar dan berjaya, diperlukan suatu visi masa depan Indonesia memasuki abad ke-21 telah ditetapkan dalam TAP MPR No. 7 tahun 2001. Dalam visi masa depan terdapat dua tujuan yaitu membangun masyarakat yang demokratis dan membangun manusia Indonesia yang cerdas serta bermoral.
Tren kehidupan umat dalam era globalisasi dewasa ini memposisikan masyarakat dan bangsa Indonesia terkait erat dengan arus besar perubahan dunia akibat globalisasi. Berkaitan dengan multikulturalisme dan masa depan yang dipengaruhi arus globalisasi, Masini mengemukakan empat bentuk masa depan yang dapat dipelajari yaitu:
1. Masa depan yang mungkin (possible futures)
2. Masa depan yang dikehendaki (preferable futures)
3. Masa depan yang masuk akal (plausible futures)
4. Masa depan yang paling mungkin (probable futures)

Sumber : Eleonora B. Masini, Why Future Studies ?

Membangun masyarakat yang puralis dan multikultur seperti Indonesia merupakan suatu tugas yang berat. Membangun masyarakat yang demikian menuntut suatu pandangan baru mengenai nasionalisme Indonesia. Nasionalisme Indonesia yang dilahirkan sejak kebangkitan nasional yang pertama telah mengalami perubahan-perubahan dalam era kebangkitan nasional yang kedua. Selanjutnya dalam era reformasi, menuntut suatu rumusan baru mengenai nasionalisme Indonesia di dalam membangun suatu nation state yang multikultural. Bila dikaitkan dengan semboyan bangsa kita, Bhineka Tunggal Ika, maka konsep multikulturalisme Indonesia merupakan perwujudan yang nyata.
Dengan kondisi bangsa Indonesia yang penuh dengan keanekaan, konsep toleransi menjadi pilihan yang cukup baik dalam rangka terbangunnya komunitas nasional yang heterogen, tetapi tidak menumbuhkan konflik dan pertentangan. Akan tetapi konsep toleransi saja tidak cukup realistis, jika tidak ditopang oleh proses alamiah dari setiap kontak budaya, dari setiap hubungan sosial baik dalam lingkup internal maupun eksternal dari suatu komunitas.
Kontak kultural tidak hanya akan membuahkan toleransi, pengakuan akan keberadaan sebuah kebudayaan yang terpisah, serta gagasan pluralisme, melainkan dapat dipastikan akan menghasilkan saling pengaruh, saling memperkaya antarbudaya, dan gagasan mengenai multikulturalisme. Adanya gagasan multikulturalisme akan segera ditemukan kenyataan bahwa sebenarnya diri seseorang, suatu komunitas kebudayaan maupun agama, sebenarnya terbentuk dari aneka budaya; bahwa di dalam diri kita hidup orang lain dan di dalam orang lain hidup diri kita sehingga dengan demikian akan lahir adanya suatu kesatuan dari keberagaman.

D. Pendidikan Multikultural Sebagai Upaya Pemahaman Multikulturalisme
Masyarakat masa depan adalah masyarakat berdasarkan ilmu pengetahuan (konwledge-based-society) yang berati menuntut setiap insan Indonesia untuk sekurang-kurangnya mengenal dan memanfaatkan kemajuan ilmu pengetahuan serta teknologi di dalam usaha memperbaiki taraf kehidupan. Kehidupan masa depan mendambakan suatu masyarakat yang menghormati hak-hak azasi manusia atau dikenal dengan sebutan masyarakat madani.
Sungguh pun membentuk masyarakat madani merupakan suatu cita-cita luhur yang telah digariskan dalam pembukaan UUD 1945, namun memerlukan pengorbanan yang besar dari seluruh bangsa Indonesia. Suatu masyarakat yang pluralistis dan multikultural hanya mungkin dibangun oleh manusia-manusia yang cerdas dan bermoral. Tugas ini hanya dapat diwujudkan melalui perubahan sikap setiap warga negara. Perubahan sikap merupakan hasil pembinaan melalui proses pendidikan berdasarkan azas demokrasi dan multikulturalisme.
Pendidikan multikultural merupakan suatu tuntutan yang wajib dipenuhi dalam usaha membangun Indonesia baru. Secara prinsip, pendidikan multikultural adalah pendidikan yang berusaha menanamkan penghargaan terhadap adanya perbedaan. Selain itu, pendidikan multikultural merupakan konsep baru; yang merupakan bagian dari pendidikan kewargaan negara. Kurikulum inti dalam pendidikan multikultural yang pertama adalah menumbuhkan sikap toleran dari warga masyarakat agar mengakui adanya pluralisme dalam masyarakat. Sikap yang kedua adalah menciptakan dialog sebagai antisipasi untuk mengurangi gesekan-gesekan atau ketegangan yang diakibatkan oleh perbedaan-perbedaan di dalam masyarakat.
Salah satu upaya yang dibutuhkan adalah bagaimana cara mereduksi berbagai jenis prasangka negatif yang secara potensial hidup di dalam masyarakat pluralis. Peranan guru dalam pelaksanaan kurikulum yang berisi pendidikan multikultural menempati bagian yang cukup penting. Peranan guru berkaitan dengan program pendidikan guru yang tepat; manajemen rekruitmen, pendidikan, dan penempatan guru di Indonesia akan sangat menentukan keberhasilan pendidikan multikultural.
Untuk dapat mewujudkan pendidikan multikultural yang ideal di Indonesia, perlu membuat strategi model pendidikan yang mencakup tiga jebis transformasi, yaitu :
1. Transformasi diri secara individu.
2. Transformasi sekolah sebagai lembaga pendidikan.
3. Transformasi dari dalam lingkungan masyarakat.
Pertentangan etnis yang pernah terjadi di negeri kita beberapa tahun terakhir mengajarkan betapa pentingnya pendidikan multikultural bagi masyarakat. Meskipun masyarakat mengakui adanya keragaman secara formal, tetapi tidak demikian pada kenyataan yang tergambar dalam realitas kehidupan yang berlangsung di masyarakat.
Di Indonesia, pendidikan multikultur merupakan wacana yang relatif baru dan dipandang sebagai suatu pendekatam yang lebih sesuai bagai masyarakat Indonesia yang heterogen, terutama bagi daerah-daerah yang memiliki semangat bahkan euforia otonomi dan desentralisasi. Dalam konteks ini, pendidikan multikultural menjadi sangat strategis bagi upaya menanamkan pemahaman sikap keberagaman sekaligus kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Namun dalam hal pendidikan multikultural tidak dijalankan dengan baik, justru akan menjadi saluran paling efektif bagi munculnya bibit-bibit desintegrasi.
Kurikulum pendidikan multikultural seyogyanya memuat perimbangan pemhaman tentang kebudayaan lokal sebagai entitas multikultural dalam kerangka integrasi nasional sebagai kondisi ideal yang diharapkan. Atas dasar ini, pendidikan multikultural diharapkan mampu menanamkan nilai-nilai filosofis kebudayaan masing-masing daerah, tetapi pada saat yang relatif sama mampu pula mengubungkannya dalam konstelasi nilai-nilai filosofis kebudayaan nasional.
Membayangkan bagaimana pendidikan multikutural dapat berlangsung dengan baik di lembaga pendidikan formal dalam era transformasi global merupakan harapan ideal yang sulit dilakukan. Namun itu tidak berarti tidak ada upaya untuk terus melakukan pemahaman bersama tentang kurikulum, perencanan, strategi, dan evaluasi pendidikan multikultural.
Tilaar (2004 : 45) menggambarkan multikultural dan transformasi pendidikan nasional sebagai berikut :

E. Multikulturalisme dan Tantangan Global Masa Depan
Masyarakat Indonesia dalam bentuknya yang bhineka telah mengalami kehidupan yang beraneka ragam dalam sejarah perkembangannya. Dalam era reformasi memasuki milenium ketiga, masyarakat Indonesia telah mengalami berbagai goncangan yang dahsyat sebagai suatu masyarakat, bangsa, dan negara. Dalam perkembangan selanjutnya masyarakat Indonesia harus mempunyai modal intelektual untuk menghadapi perubahan-perubahan di masa depan.
Salah satu upaya dalam mengarahkan resiko masa depan yaitu membentuk suatu masyarakat madani, yaitu suatu masyarakat yang demokratis dan menghormati hak azasi manusia. Manusia dilahirkan dengan berbagai jenis keinginan, nafsu, dan kebergaman kepentingan merupakan potensi untuk kemajuan tetapi bisa juga mengarah pada potensi timbulnya konflik. Masyarakat madani berusaha menciptakan kebersamaan, menghormati perbedaan, kepentingan bersama, serta senantiasa berupaya mengatasi perbedaan.
Konsep nasionalisme sebagaimana yang terlahir pada masa kebangkitan nasional 1908 di Indonesia kini menghadapi berbagai tantangan. Pada masa kebangkitan nasional I perbedaan suku bangsa, keyakinan, dan agama tidak menjadi masalah karena musuh besar yang saat itu dihadapi bangsa Indonesia adalah kolonialisme dan imperialisme. Kini tantangan kebhinekaan bangsa Indonesia adalah perbedaan agama, suku bangsa, tingkat ekonomi dan sosial yang seringkali dibesar-besarkan. Kondisi demikian menjadi masalah yang sangat krusial dalam menentukan wajah masa depan masyarakat dan bangsa Indonesia yang memerlukan pengakuan adanya multikultur sekaligus perlunya persatuan masyarakat untuk menghadapi resiko keterpurukan bangsa baik dalam bidang ekonomi maupun sosial.
Multikulturalisme merupakan pilihan atau resiko yang perlu diambil oleh keputusan masyarakat bangsa Indonesia agar bisa survive di masa depan. Multikultur merupakan suatu resiko yang perlu diambil dalam membina masyarakat bangsa Indonesia. Di atas konsep tersebut, seharusnya diambil kepurtusan-keputusan yang rasional, demokratis, faham pengembangan liberalisme yang tepat, pengakuan terhadap kebhinekaan budaya masyarakat dan bangsa Indonesia, adanya kebebasan beragama dan beribadah sesuai dengan keyakinannya, demikian pula membangun nasionalisme baru dari masyarakat baru Indonesi, serta kesatuan tekaduntuk membangun suatu dunia yang bebas dari kemiskinan serta pengakuan terhadap hak-hak azasi semua manusia Indonesia.
Masyarakat yang penuh resiko masa depan perlu ditangani dengan penguasaan ilmu pengetahuan khususnya untuk meningkatkan taraf kehidupan manusia. Masyarakat yang tidak menguasai ilmu pengetahuan akan tertinggal bahkan menjadi budak dari masyarakat yang menguasai pengetahuan dan teknologi. Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi saja belum cukup untuk bisa membangun suatu masyarakat yang damai, sejahtera dan mengakui hak-hak azasi manusia setiap anggota masyarakat.
Bentuk masyarakat masa depan yang ideal adalah masyarakat madani yang bebas dari pelecehan hak-hak azasi manusia dan senantiasa perduli terhadap penderitaan sebagian besar umat manusia dewasa ini yaitu kemiskinan. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Castells, dalam bukunya The Information Age : Economy, Society, and Culture (2004); masyarakat bangsa seperti Indonesia, toleransi harus dijunjung tinggi karena fahammultikultural sangat menghormati manusia atau masyarakat yang bereksistensi dalam identitas budayanya. Apabila bentuk ideal masyarakat multikultur sudah terbentuk sebagaimana masyarakat madani di Indonesia, maka sudah dapat digambarkan masa depan yang lebih baik akan berada dalam genggaman setiap anggota masyarakat bangsa.

Multikulturalisme & Visi Indonesia Masa depan

DAFTAR PUSTAKA

Abdillah S, Ubed. 2002. Politik Identitas Etnik : Pergulatan Tanda Tanpa Identitas. Magelang : Indonesiatera.

Havilland, William. 1993. Antropologi : Edisi keempat jilid 2. Jakarta : Erlangga.

Kymlicka, Will. 2003. Kewargaan Multikultural. Jakarta : LP3ES.

Liliweri, Alo. 2005. Prasangka dan Konflik : Komunikasi Lintas Budaya Masyarakat Multikultur . Jogjakarta : PT. LKIS Pelangi Aksara.

Mahfud Choirul. 2006. Pendidikan Multikultural. Jogjakarta : Pustaka Pelajar.

Patji, Abdul Rachman. 2001. “Primordialisme dalam Pluralitas Etnis”, dalam Indonesia menapak Masa Depan dalam Kajian Sosial dan Budaya. Ed. Muhammad Hisyam. Jakarta : Peradaban.

Pelly, Usman dan Asih Menanti. 1994. Teori Sosial Budaya. Jakarta : Dirjen Dikti Depdiknas.

Salim, Fahruddin. 2001. “Pluralisme dan Toleransi Kebergamaan”, dalam Pluralitas Agama: Kerukunan dalam Keragaman. Ed. Nur Achmad. Jakarta : Kompas.

Tilaar, H.A.R. 2004. Multikulturalisme : Tantangan Tantangan Global MasaDepan dalam Transformasi Pendidikan Nasional. Jakarta : Gramedia Widiasarana Indonesia.

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s